Psikoedukasi Regulasi Emosi Sebagai Upaya Promosi dan Prevensi Kesehatan Mental pada Guru Pendamping Khusus di Sekolah Inklusi
DOI:
https://doi.org/10.59837/z0enwy98Keywords:
Kesehatan Mental, Regulasi Emosi, Psikoedukasi, Guru Pendamping Khusus, Sekolah InklusiAbstract
Guru Pendamping Khusus (GPK) memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif, namun menghadapi tuntutan emosional yang tinggi dalam proses pendampingan peserta didik berkebutuhan khusus. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko stres kerja dan kelelahan emosional apabila tidak diimbangi dengan kemampuan regulasi emosi yang adaptif. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan psikoedukasi regulasi emosi sebagai upaya promosi dan prevensi kesehatan mental pada GPK di sekolah inklusi. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikoedukasi partisipatif. Subjek kegiatan adalah Guru Pendamping Khusus di SDIT dan SMPIT Insan Kamil Majalengka. Data diperoleh melalui observasi kegiatan, diskusi interaktif, refleksi peserta, serta praktik langsung teknik regulasi emosi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mampu memahami konsep regulasi emosi, mengidentifikasi pemicu emosi dalam konteks pekerjaan, serta mempraktikkan strategi regulasi emosi secara aplikatif, khususnya cognitive reappraisal dan teknik deep breathing. Psikoedukasi regulasi emosi berpotensi menjadi pendekatan promotif dan preventif yang relevan dalam mendukung kesehatan mental serta profesionalisme GPK di lingkungan sekolah inklusi.
References
Ardiani, N., & Putra, R. A. (2024). Resiliensi emosional pendidik dalam konteks pendidikan inklusif. Jurnal Psikologi Pendidikan Inklusif, 6(1), 45–58.
Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control. New York, NY: W. H. Freeman and Company.
Benson, H., & Proctor, W. (2010). Relaxation revolution: Enhancing your personal health through the science and genetics of mind body healing. New York, NY: Scribner.
Chanchai, P., & Thipparat, K. (2024). Emotional regulation and teacher well-being: A protective factor against burnout. International Journal of Educational Psychology, 13(2), 112–124.
Figas, K., Chandler, T., et al. (2024). Qualitative evaluation of the impact of a school mental health literacy program on educators and students. Behavioral Sciences, 14(8), Article 649
Goleman, D. (1995). Emotional intelligence: Why it can matter more than IQ. New York, NY: Bantam Books.
Gross, J. J. (1998). The emerging field of emotion regulation: An integrative review. Review of General Psychology, 2(3), 271–299. https://doi.org/10.1037/1089-2680.2.3.271
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26. https://doi.org/10.1080/1047840X.2014.940781
Kusumawati, R. (2024). Regulasi emosi dan monitoring diri pada pendidik sekolah inklusi. Jurnal Psikologi Terapan, 8(1), 23–35.
Lazarus, R. S. (1991). Emotion and adaptation. New York, NY: Oxford University Press.
Mulyadi, S., & Sari, D. P. (2021). Stres kerja dan fleksibilitas emosi pada guru Pendidikan inklusif. Jurnal Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental, 10(2), 85–97.
Sitio, R. (2024). Strategi regulasi emosi adaptif dalam konteks profesi pendidik. Jurnal Psikologi Pendidikan, 9(1), 14–27.
Wahyuni, S. (2025). Profesionalisme guru dan regulasi emosi dalam lingkungan pendidikan inklusif. Jurnal Manajemen Pendidikan, 12(1), 33–46.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Asma Farida Khaerunnisa, Yeni Rahmawati, Putri Muftiasih, Luis Ananda, Ridha Habibah, Meina Shiamullaeli, Budiman Al Iman (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.









